
Banyak ahli linguistik berteori bahwa pembelajaran bahasa paling baik adalah ketika manusia masih kanak-kanak. Baik itu kelompok Behaviorism, Chomskian, atau interactionist. Masing-masing pakar dari kubu tersebut memaparkan kelebihan masa kanak-kanak. Mereka "hampir sepakat" bahwa masa keemasan berbahasa ketika manusia mulai beranjak bicara. Jika masa kemasan ini tidak terurus maka periode berikutnya akan semakin sulit kita mengajarkan mereka bahasa kedua atau asing.
Sebagaimana menurut para Nativism, bahwa pada otak manusia ada Language Acaqusition Device dimana kemampuan ini akan mencapai puncaknya pada saat usia kritis antara 3 sampai sebelum masa balig.Ibarat sebuah spon menyerap air disekitarnya. Jadi para orang tua sebaiknya sadar momen ini. Sehingga nantinya tidak "kecewa" dalam "memasukan" bahasa kedua ketika mereka menginjak dewasa. Teori ini juga menepis para pemilik kursus bahasa inggris yang menawarkan belajar instan. Menguasai bahasa (Languange Acquisition) tidak sama dengan (language Learning).
Inilah yang sebenarnya akar permasalahan di masyarakat kita ketika berkeluh kesah bagaimana menjadi master sebuah bahasa asing. Mereka mengira bahwa belajar bahasa asing, Inggris, hanyalah bagaimana menghafal kosa kata (vocabulary) sambil melupakan faktor usia.
Jadi, kalau sudah dewasa kita tidak bisa menguasai bahasa asing, Inggris ? Bisa ya bisa tidak. Maksudnya pemelajar dewasa tetap mampu dan potensi menguasai bahasa asing dengan syarat dia sudah mempuyai acqusition sebelumnya. Artinya ada "working knowledge' ataupun shemata meskipun tidak sempurna. Tetapi jika dia langsung "being learner" untuk bahasa kedua, penulis pikir dia akan tetap berkesimpulan bahwa bahasa asing itu sulit. Sehingga jangan terkejut jika orang dewasa tahu "knowlege of language" tapi tidak alami dalam bercakap ria. Inilah gambaran dari sebuah language learning menurut Hipotesa-nya Stephen Krashen ( Monitor Hypothesis).
Dari uraian di atas, penulis ingin mengucapkan selamat untuk lembaga-lembaga pendidikan pra sekolah yang telah menawarkan kelas bahasa, lepas dari kesempurnaan. Mereka telah meletakan "language acqusition" pada siswa dan nantinya akan disempurnakan sendiri melalui pendidikan formal alias "language learning." Permasalahannya yang muuncul kemudian adalah apakah lembaga play group atau TK tadi menyadari peran dan fungsinya dalam mengasah "Critical golden age" siswa, atau jangan-jangan mereka terjebak "language learning" karena tidak mempunyai teori psikologi dan bahasa sebelumnya ? Kalau alasan terakhir ini yang menjadi pijakan maka itupun setali tiga uang. Artinya dia telah salah mengasah dan akhirnya akan menjadi bom waktu pada siswa nantinya. Bagaimana pendapat kalian ?
