Rabu, 07 April 2010

Yuk Diskusi Bahasa II



Banyak ahli linguistik berteori bahwa pembelajaran bahasa paling baik adalah ketika manusia masih kanak-kanak. Baik itu kelompok Behaviorism, Chomskian, atau interactionist. Masing-masing pakar dari kubu tersebut memaparkan kelebihan masa kanak-kanak. Mereka "hampir sepakat" bahwa masa keemasan berbahasa ketika manusia mulai beranjak bicara. Jika masa kemasan ini tidak terurus maka periode berikutnya akan semakin sulit kita mengajarkan mereka bahasa kedua atau asing.

Sebagaimana menurut para Nativism, bahwa pada otak manusia ada Language Acaqusition Device dimana kemampuan ini akan mencapai puncaknya pada saat usia kritis antara 3 sampai sebelum masa balig.Ibarat sebuah spon menyerap air disekitarnya. Jadi para orang tua sebaiknya sadar momen ini. Sehingga nantinya tidak "kecewa" dalam "memasukan" bahasa kedua ketika mereka menginjak dewasa. Teori ini juga menepis para pemilik kursus bahasa inggris yang menawarkan belajar instan. Menguasai bahasa (Languange Acquisition) tidak sama dengan (language Learning).

Inilah yang sebenarnya akar permasalahan di masyarakat kita ketika berkeluh kesah bagaimana menjadi master sebuah bahasa asing. Mereka mengira bahwa belajar bahasa asing, Inggris, hanyalah bagaimana menghafal kosa kata (vocabulary) sambil melupakan faktor usia.

Jadi, kalau sudah dewasa kita tidak bisa menguasai bahasa asing, Inggris ? Bisa ya bisa tidak. Maksudnya pemelajar dewasa tetap mampu dan potensi menguasai bahasa asing dengan syarat dia sudah mempuyai acqusition sebelumnya. Artinya ada "working knowledge' ataupun shemata meskipun tidak sempurna. Tetapi jika dia langsung "being learner" untuk bahasa kedua, penulis pikir dia akan tetap berkesimpulan bahwa bahasa asing itu sulit. Sehingga jangan terkejut jika orang dewasa tahu "knowlege of language" tapi tidak alami dalam bercakap ria. Inilah gambaran dari sebuah language learning menurut Hipotesa-nya Stephen Krashen ( Monitor Hypothesis).

Dari uraian di atas, penulis ingin mengucapkan selamat untuk lembaga-lembaga pendidikan pra sekolah yang telah menawarkan kelas bahasa, lepas dari kesempurnaan. Mereka telah meletakan "language acqusition" pada siswa dan nantinya akan disempurnakan sendiri melalui pendidikan formal alias "language learning." Permasalahannya yang muuncul kemudian adalah apakah lembaga play group atau TK tadi menyadari peran dan fungsinya dalam mengasah "Critical golden age" siswa, atau jangan-jangan mereka terjebak "language learning" karena tidak mempunyai teori psikologi dan bahasa sebelumnya ? Kalau alasan terakhir ini yang menjadi pijakan maka itupun setali tiga uang. Artinya dia telah salah mengasah dan akhirnya akan menjadi bom waktu pada siswa nantinya. Bagaimana pendapat kalian ?

Yuk Diskusi Bahasa I



Bicara pengajaran bahasa Inggris (PBI) di Indonesia bagaikan pekerjaan yang tak pernah rampung-rampung. Mungkin seperti mengurai benang ruwet yang tak pernah ketemu ujungnya. Berbagai model kurikulum telah ditawarkan. Belum ada hasil. Baik kurikulum proyek, ideal maupun paling mutakhir - saya lebih suka menyebutnya kurikulum tukang -meskipun orang menyebutnya Genre Based mudah-mudahan ada yang mau menanggapi - terutama poro-poro yang merasa pakar bahasa Inggris di dunia maya). Hampir semua kurikulum diatas belum memberikan solusi mantap. Buktinya ? Kalau sudah pas pasti nggak akan ganti yang baru. Kalau sudah cocok pasti nggak akan coba-coba.

Tapi jika disuruh memilih diantara kurikulum kita , penulis pilih model kurikulum tahun 1980 (dimana saat itu masih SMP dan memakai creative english) hasilnya banyak anak bisa cas-cis-cus. Dan bahasa Inggris juga menjadi pelajaran yang menyenangkan. Tidak ada siswa yang tak kenal "Tenses" disamping pasti juga termotivasi untuk memahami berbagai bacaan. Jaman berganti, cara pandang pun berubah. Apalagi banyak ratusan Doktor almuni berbagai universitas Australia mulai merevolusi pembelajaran dan pengajaran bahasa. Berbagai temuan dijejalkan pada semua calon guru baik mahasiwa D3,s1 dan s2 dalam negeri. Mereka harus mengusung "Genre Based Approach" alias kurikulum tukang(biar marah bagi yang pro).

Maksudnya apa kurtukang ? Jelas iyalah...siswa sudah disiapkan dengan pola sederhana dan menghafalkan aneka teks sepele. Tak ada pilihan...tergantung para mandor atasan....ya top down process. Siswa hanya manut-manut...mau apa lagi kalau nggak manut. Hasilnya ? Coba adakan penelitian nasional secara lurus dan jujur ( jangan terkecoh nilai UAN apalagi raport) hasilnya nanti pasti akan mengejutkan. Berarti gagal dong ?
Belum tentu cuma.....hasilnya tak memuaskan (bahasa birokrasi nih yee).

Sebenarnya juga tak bisa disalahkan seratus persen pada kurikulum tapi.....saya lebih suka menyalahkan "para pengajar bahasa inggris di PT) lho kok jadi kambing hitam.......?
Ya iyalah.....sekarang ini para pengajar di PT terlalu terbebani pekerjaan birokrasi dan institusi. Pikiran mereka telah diperas habis...bis....bis untuk proyek nasional. Terus kapan belajarnya ? Kapan risetnya ? Kapan menawarkan konsep baru termudah belajar bahasa Inggris. Sementara di cIna (baca RRC) mereka telah menyatakan kesiapannya menjadi negara terbesar pemakai bahasa Inggris. Jangan kaget ya .....(makanya banyak baca jangan cuma FB hehehe),

Kadang penulis berandai-andai....
seandainya para mahasiswa paham perbedaan antara Language acquisition dan language learning....pasti guru-guru bahasa inggris hari ini banyak yang tak pernah berkeluh kesah terhadap situasi kelas.Seandainya dulu para mahasiswa tahu apa itu psikolinguitik dan pengajaran TEFL maka hari ini tak akan ada banyak guru "yang tergila-gila" dengan BKOF, MOT, IOT atau ICOT (CODOT sekalian...) Seandainya para guru sehari saja mau baca Noam Chomsky, Skinner dan Stephen Khrasen mungkin kita tetap punya kekayaan "wacana" dalam mengajar bahasa.
Kadang ketidak tahuan di atas membuat kita prihatin.....teori, approach, method, maupun tehnik macam apa sih yang dipakai di negeri ini. Jangan-jangan kita sendiri bengong dan bingung......karena rutinitas seabrek membelenggu otak kanan kita dan akhirnya kita pilih jadi guru konservatif yang bersertifikasi. Sedangkan kreatif...........hanya berputar pada gagasan dan diskusi seperti ini.